Review Buku Turtles All The Way Down | Jhon Green

REVIEW TURTLES ALL THE WAY DOWN

"Aku, sebuah kata benda tunggal yang tepat, akan melanjutkan hidup, meskipun dalam bentuk kalimat bersyarat".

Kamu pasti tau seperti apa seorang John Green beraksi dengan rangkaian kata-katanya. Mengagumkan. Setiap kalimat yang ia susun membuatku harus mengulang lagi untuk membaca. Ia menyajikan bentuk metafora yang membuat kamu mesti dua kali memahaminya, jalan cerita dan arti kalimat. Tapi kalimatnya indah. Aku suka.


Agak bingung dengan jalan pikiran Aza. Seorang remaja SMA yang tidak bisa berdamai dengan benaknya sendiri. Aku tau semua orang ingin kebebasan. Bebas yang diartikan sama oleh setiap orang. Bebas yang melahirkan dirimu yang sebenarnya. Tetapi kebebasan bukanlah hal yang diinginkan Aza.

“Kengerian sejati bukanlah ketika kita merasa takut, itu adalah ketika kita tidak punya pilihan tentangnya”. –Jhon Green

Remaja ini mengidap mental illness. Hidup penuh dengan segala kekhawatiran. Contohnya, kamu akan makan makanan dan minuman apa pun yang kamu suka, menikmati setiap cita rasanya. Lain hal dengan Aza, ia memikirkan bagaimana nanti nasib perutnya dan kondisi tubuhnya yang bergelut dengan bakteri makanan yang ia makan. Merobek-robek kulit jari tengah dengan kuku ibu jarinya. Setiap saat. Sesering apa ia melukai jarinya, sesering itu juga ia mesti mengganti Band-Aid yang ia pakai. Atau mendapati dirinya meminum handrub demi tidak terkontaminasi oleh C. Diff.



Selain itu Aza bersama sahabatnya Daisy terlibat kasus pengejaran miliarder, yang ternyata adalah ayah dari teman kecilnya. Keterlibatannya membuat Aza masuk ke dunia Davis. Siapa sangka niat Aza menjadi detektif ala ala, malah membuatnya "jatuh" kepada Davis.

Cara berpikir Aza yang sulit dipahami menggambarkan betapa perlunya rasa memahami. Penyakit ini tidak ada obatnya. Satu hal yang bisa dilakukan yaitu belajar untuk menerima dan belajar untuk saling memahami. Dan yang nggak kalah pentingnya, motivasi atau dukungan dari keluarga dan orang sekitar untuk mereka.

Review By : Widya Novi Susanti

Posting Komentar

0 Komentar