Teknik Komunikasi | Bahasa Apa Yang Harus Digunakan Kepada Masyarakat ?

TEKNIK KOMUNIKASI

Teknik komunikasi dengan masyarakat
Gambar oleh rozi piliang

Komunikasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah dalam berkomunikasi akan membuat kesalahpahaman bahkan bisa menimbulkan konflik sosial. Konflik yang ditimbulkan hanya karena gagal paham tentu tidak sangat tidak pantas terjadi. Pasalnya, maksud dan tujuan mungkin sama. Namun karena salah dalam berkomunikasi, seolah-olah maksud tersebut berbeda.


Dalam berkomunikasi yang menjadi tujuan utama adalah bahasa. Seseorang harus piawai dalam memilih bahasa agar lawan bicara tidak gagal paham dengan pokok-pokok yang disampaikan.
Jika sebagai aparatur sipil negara yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, bahasa seperti apakah yang harus kita gunakan ?. Apakah kita harus menggunakan bahasa Indonesia setiap memberikan pelayanan kepada masyarakat ?.

Sebuah perdebatan seru telah terjadi untuk membahas kasus ini. Sebagian pihak berpendapat bahwa seseorang ASN harus menjunjung tinggi Bahasa Indonesia dan Harus menggunakannya dalam setiap komunikasi dengan masyarakat. Pihak lain berpendapat bahwa tak harus menggunakan bahasa Indonesia karena disesuaikan saja dengan kearifan lokal masing-masing.

BAHASA YANG DIGUNAKAN

Berbahasa Indonesia memang merupakan sebuah keharusan untuk dijunjung tinggi. Sesuai  salah satu amanat sumpah pemuda yaitu “Menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia”. Untuk menjaga persatuan indonesia, konsep ini memang sangat bagus. Sumpah pemuda benar-benar dapat menyatukan suara rakyat Indonesia.

Namun di sisi lain, menjaga kearifan lokal juga tidak kalah penting. Salah satu kearifan lokal yang harus dilestarikan adalah bahasa. Bahasa daerah di Indonesia sangat banyak dan beragam. Satu Provinsi saja bisa memiliki puluhan gaya bahasa.

Terlepas dari semua itu, sebagai ASN, saya menyimpulkan beberapa hal soal bahasa komunikasi yang digunakan untuk melayani masyarakat. Saya menilai dari kedua pemikiran diatas sebenarnya dapat di digabungkan. Alasan yang kuat untuk menggabungkan kedua pemikiran tersebut adalah situasi atau keadaan nyata di lapangan.

KEJADIAN DILAPANGAN

Beberapa hal yang saya temui di lapangan ternyata tidak bisa memaksakan cara pikir diatas. Tidak semua masyarakat di daerah (Apalagi daerah terpencil) tidak dapat menggunakan Bahasa Indonesia. Dan tidak semua masyarakat juga yang mengerti bahasa lokal (Pendatang).

Untuk mengatasi hal tersebut, Seorang ASN harus piawai dalam memilih bahasa. Jika berbicara dengan penduduk asli yang tidak bisa berbahasa Indonesia, gunakanlah bahasa setempat agar tidak ada kesalahpahaman. Jika berbicara dengan warga pendatang, gunakanlah bahasa Indonesia.

Jika sebagai ASN tidak bisa berbahasa lokal setempat (mungkin ASN nya pendatang), maka minta tolonglah kepada teman ASN lain yang merupakan penduduk asli setempat. Dengan demikian kita sudah dapat meminimalisir kesalahpahaman hanya karena salah bahasa.

KESIMPULAN

Jangan memaksakan diri menggunakan satu bahasa jika lawan bicara tidak mengerti dengan bahasa tersebut. Tulisan ini sebenarnya sangat sederhana, namun seringkali dijumpai kesalahpahaman terjadi karena salah dalam memilih bahasa.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Adik saya dulu dibiasakan berbahasa Indonesia dari kecil.
    Ternyata ketika masuk sekolah, Guru disekolah menggunakan bahasa lokal (bahasa Minang).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya lembaga pendidikan sebagai sektor pendidikan formal tetap menerapkan berbahasa Indonesia. Terimakasih Atas Komentarnya. InsyaAllah saya akan buatkan artikel khusus tentang ini.

      Hapus

Tinggalkan Kritik & Saran Dengan Berkomentar